Rabu, 30 Mei 2012

MAKALAH PSIKOLOGI AGAMA ( PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN)


MAKALAH


PSIKOLOGI AGAMA
PENGARUH PENDIDIKAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN

Di Susun Oleh
·        Ida Zakiyah


DOSEN PEMBIMBING
Dra. Rosma Hartiny Sam’s M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) BENGKULU
2012


 

KATA PENGANTAR

Teriring do’a sebagai seorang hamba, segenap ikhtiar sebagai seorang khalifah, dan segala puji syukur milik Allah SWT, Pencipta semesta alam, yang menaburkan kehidupan dengan penuh hikmah. Dengan limpahan rahmat, taufik serta inayah-Nya, penulis diberikan kekuantan untuk menyeleseikan makalah yang berjudul “pengaruh pendidikan terhadap jiwa keagamaan”.
Sholawat serta salam senantiasa kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, sang penerang umat, juga kepada keluarga yang mulia,sahabatnya yang tercinta dan umatnya yang setia  akhir zaman semoga kita mendapat syafaat-Nya.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak.  Sebagaimana pepatah mengatakan  Tiada gading yang tak retak, maka penulisan makalah inipun tentunya dijumpai banyak kekurangan dan kelemahan. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharap tegur serta saran-saran penyempurnaan, agar kekurangan dan kelemahan yang ada tidak sampai mengurangi nilai dan manfaat bagi pendidikan studi Islam pada umumnya.

Bengkulu,  Mei 2012


Penulis             


BAB 1
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang
Manusia dilahirkan di dunia ini dalam keadaan fitrah, sehingga pengaruh lingkungan akan turut mempengaruhi perkembangan seseorang. Baik ataupun buruknya lingkungan akan menjadi referensi bagi perkembangan masyarakat sekitarnya. WH. Clarck mengemukakan bahwa bayi yang baru lahir merupakan makhluk yang tidak berdaya, namun ia dibekali oleh berbagai kemampuan yang bersifat bawaan. Disini mengandung pengertian bahwa sifat bawaan seseorang tersebut memerlukan sarana untuk mengembangkannya. Pendidikan merupakan sarana yang tepat dalam mencapai hal tersebut. Baik pendidikan keluarga, formal ataupun non formal sekalipun. Terlebih sebagai umat islam maka pendidikan islam tentu menjadi sebuah jalan yang harus ditempuh oleh semua umat.

B.     Rumusan Maslah.
1.      Bagaimana penjelasan pendidikan keluarga?
2.      Bagaimana penjelasan pendidikan kelembagaan?
3.      Bagaimana penjelasan pendidikan dimasyarakat?
4.      Bagaiman penjelasan agama dan masalah sosial?
 


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pendidikan Keluarga.
Barang kali sulit untuk mengabaikan peran keluarga dalam pendidikan. Anak-anak pada masa bayi sampai sekolah memiliki lingkungan tunggal, Yaitu keluarga. Makanya tidak mengheran kan jika Gilbert Highest menyatakan bahwa kebiasaan yang dimiliki anank-anak sebagian besar terbentuk oleh pendidikan keluarga. Sejak bangundari tidur hingga saat akan tidur kembali, Anak-anak kenerima pengaruh dan pendidikan keluarga(Gilbert Highest, 1961:78).
Bayi yang baru lahir merupakan  mahluk yang tidak berdaya, namun ia dibekali oleh bebagai kemampuan yang bersifat bawaan, Disini terlihat oleh berbagai aspek yang kontradiktif. Disatu pihak bayi bayi berada dalam kondisi tanpa daya, Sedang dipihak lain bayi mempunyai kemampuan untuk berkembang (exploratif). Tetapi menurut Walter Houston Clark, Perkembangan bayi tidak dapat berlangsung secara normal tanpa adanya interfensi dari luar, Walaupun secara alami ia memiliki potensi bawaan. Seandai nya bayi dalam pertumbuhan dan perkembangan nya hanya diharapkan menjadi manusia normal sekalipun, Maka ia memerlukan berbagai persyaratan tertentu serta pemeliharaan yang berkesinambungan (W.H.CLrak,1964:2).
Dua ahli psikologi prancis bernama Itar dan sanguin pernah meniliti anak-anak asuhan srigala. Mereka menemukan dua oarang bayiyang dipelihara oleh seklompok srigala disebuah gua, Ketika ditemukan, kedua bayi manusia itu sudahberusia kanak-kanak. Namun, Kedua bayi tersebut tidak menunjukkan kemampuan yang seharus nya dimiliki manusia pada usia kanak-kanak. Tak seorangpun diantara keduanya mampu mengucapakan kata-kata, kecuali aungan sekor srigala. Keduanya juga berjalan merangkak dan makan dngan cera menjilat. Dan terlihat pertumbuhan gigi serinya paling pinggir lebih runcing menyrupai taring srigala. Setelah dikembalikan kelingkungan masyarakat mnusia, ternyata kedua anak-anak hasil asuhan srigala tak dapat menyesuikan diri, dan akhir nya mati.
Contoh diatas menunjukkan bagaimana pengaruh pendidikan, Baik dalam bentuk pemeliharaan ataupun pembentukan kebiasaan terhadap massa depan perkembangan seorang anak. Meskipun seorang anak /bayi manusia yang dibekali sebuah potensi kemanusiaan, Namun dilingkungan pemeliharaan srigala tersebut potensi tidak berkembang.
Kondisi  seperti itu tampak nya menyebabkan manusia memerlukan pemeliharaan, Pengawasan dan bimbingan yang serasi dan sesuai agar pertumbuhan dan perkembangan dapat berjalan baik dan benar. Manusia memang bukan mahkluk yan instintik  secara utuh, Sehingga ia tidak mungkin berkembang dan tumbuh secara instingtif sepenuh nya. Makanya menurut W.H. Clrak, bayi memerlukan persyaratan-persyaratan tertentupengawasan serta pemeliharaan terus menerus sebagai latihan dasar dalam pembentukan dasar dalam pembentukan kebiasaan dan sikap-sikap tertentu agar ia memiliki kemungkinanuntuk berkembang secara wajar dalam kehidupan dimassa depan.
Keluarga menurut para pendidik merupakan lapangan pendidikan yang pertama dan pendidiknya adalah kedua orang tua. Orang tua adalh pendidik kodrati. Mereka pendidik bagi ank-anaknya  karena secara kodrat ibu dan ayah diberikan anugrah oleh tuhan penciptaberupa naluri orang tua. Karena naluri ini,timbul kasih sayangpara orang tua terhadap anak mereka, sehingga secara moral kedua nya merasa terbeban tanggung jawab untuk memelihara, mengawasi ,melindungi, serta membimbing keturunan mereka.
Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan. Perkembangan agama menurut W.H.Clark, berjalin dengan unsur-unsur kejiwaan sehingga sulit di identifikasisecara jelas, karena masalh menyangkut kejiwaan, manusia begitu rumit dan kompleksnya. Namun demikian, melalui fungsi-fungsi jiwa yang masih sederhana tersebut, Agama terjalin dan terlibat didalam nya. Melalui jalinan unsur-unsur dan tenaga kejiwaan ini pulalah agama itu berkembang. Dalam kaitan pula itulah terlihat peran pendidikan keluarga,dalam menanamkan jiwa keagamaan pada anak, Maka. Tak mengheran kan jika rosul menekan kan tanggung jawab itu pada kedua orang tua.

B.     Penidikan Kelembagaan.
  Di masyarakat primitif lembaga pendidikan secara khusus tidak ada. Anak-anak umumnya dididik dilingkungan keluarga dan masyarakat lingkungan nya. Pendidik secara kelembagaan memang belom diperlukan, karena fariasi profesi dalam kehidupan belom ada. Jika anak dilahirkan dilingkungan keluarga tani, Maka dapat dipastikan ia akan menjadi petani seperti orang tua dan masyarakat lingkungan nya. Demikian pula anak seorang nelayan, Ataupun anak seorang pemburu.
Sebaliknya, dimasyarakat yang telah memiliki peradaban modern, tradisi seperti itu tak mungkin dipertahankan. Untuk menyeleraskan diri dengan perkembangan kehidupan masyarakatnya, Seseorang memerlukan pendidikan. Sejalan dengan kepentingan itu, Maka dibentuk lembaga khusus yang menylenggarakn tugas-tugas kependidikan dimaksud. Dengan demikian, Secara kelembagaan maka sekolah-sekolah pada hakikat nya adalah merupakan lembaga pendidikan yang artifisialis (sengaja dibuat).
Selain itu, sejalan dengan fungsi dan peranan nya, maka sekolah sebagai kelembagaan pendidikan adalah pelajud dari pendidikan keluarga. Karena keterbatasan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka, maka mereka diserahakn kesekolah-sekolah. Sejalan dengan kepentingan dan massa depan anak-anak, terkadang para orang tua sangat efektif dalam menentukan tempat untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Mungkin saja para orang tua yang berasal dari keluarga taat beragam akan memasukkan anak-anak nya kesekolah agama. Sebalik nya, para oarang tua lain lebih mengarahkan anak mereka kesekolah umum. Ataau sebalik nya orang tua yang mengendalikan anak nya sulit bisa juga para orang tua memasukkan anak nya kesekolah Agama dengan tujuan pembentukan kepribadian yang lebih baik.
Fungsi sekolah dalam kaitannya dengan pembentukan jiwa keagamaan pada anak, antara lain sebagai pelanjut pendidikan agama di lingkungan keluarga atau membentuk jiwa keagamaan pada diri anak yang tidak menerima pendidikan agama dalam keluarga. Dalam konteks ini guru agama harus mampu mengubah sikap anak didiknya agar menerima pendidikan agama yang dibarikannya.
Menurut Mc Guire proses perubahan sikap dari tidak menerima ke sikap menerima berlangsung melalui tiga tahap perubahan sikap. Proses pertama adalah adanya perhatian; kedua, adanya pemahaman; dan ketiga, adanya penerimaan (Djamaluddin Ancol: 40-41). Dengan demikian pengaruh kelembagaan pendidikan dalam pembentukan jiwa keagamaan pada anak, sengat tergantung dari kemampuan para pendidik untuk menimbulkan ketiga proses itu. Pertama, pendidikan agama yang diberikan harus dapat menarik perhatian peserta didik. Untuk menopang pencapaian itu, maka guru agama harus dapat merencanakan materi, metode serta alat-alat bantu yang menungkinkan anak-anak memberikan perhatiannya.
Kedua, para guru agama harus mampu memberikan pemahaman kepada anak didik tentang materi pendidikan yang diberkannya. Pemahaman ini akan lebih mudah diserap jika pendidikan agama yang diberikan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Jadi tidak terbatas plada kegiatan yag bersifat hafalan semata. Ketiga, penerimaan siswa terhadap meteri pendidikan agama yang diberikan. Plenerimaan ini sangat tergantung dengan hubungan antara materi dengan kebutuhan dan nilai bagi kehidupan anak didik. Dan sikap menerima tersebut pada garis besarnya banyak ditentukan oleh sikap pendidik itu sendiri, antara lain memiliki keahllian dalam bidang agama dan memiliki sifat-sifatyang sejalan dengan ajaran agama, seperti jujur dan dapat dipercaya. Kedua ciri ini akan sangat menetukan dalam mengubah sikap para anak didik.

C.     Pendidikan di Masyarakat.
 Masyarakat merupakan lapangan pendidikan yang ketiga. Para pendidik umumnya sependapat bahwa lapangan pendidikan yang ikut mempengaruhi pendidikan anak didik adalah keluarga, kelembagaan pendidiklan dan lingkungan masyarakat. Kerasian antara ketiga lapangan pendidikan ini akan memberi dampak yang positif bagi perkembangan anak, termasuk dalam pembentukan jiwa keagamaan mereka.
Seperti diketahi bahwa dalam keadaan yang ideal, pertumbuhan seseorang menjadi sosok yang memiliki kepribadian terintegrasi dalam berbagai aspek mencakup fisik,psikis,moral dan spritual (M.Buchori: 155). Maka menurut Wetherington, untuk mencapai tujuan itu perlu pola asuh yang serasi, menurutnya adaenam aspek dalam mengasuh pertumbuhan itu,  yaitu:
1.      Fakta-fakta asuhan;
2.      Alat-alatnya;
3.      Regularitas;
4.      Perlindungan; dan
5.      Unsur waktu (M.Buchori: 156).
 Wetherington memberi contoh mengenai fakta asuhana yanng diberikan kepada anak kembar yang diasuh di lingkungan yang berbeda. Hasilnya ternyata menunjukkan bahwa ada perbedaan antara keduanya sebagai hasil pengaruh lingkungan. Selanjutnya ia mengutip hasil penelitian Newman tentang adanya perbedaan dalam lingkungan sosial dan pendidikan menghasilkan perbedaan-perbedaan yang tidak dapat disangkal. Dengan demikian menurutnya, kehidupan rumah (keluarga) yang baik dapat menimbulkan perubahan-perubahan yang penting dalam perubahan psikis (kejiwaan) dan dalam suasana yang lebih kaya pada suatu sekolah perubahan-perubahan semacam itu akan lebih banyak lagi (M.Buchori: 156).
Selanjutnya karena asuhan terhadap perumbuhan anak harus berlangsung secara teratur dan terus-menerus. Oleh karena itu, lingkungan masyarakat akan memberikan dampak dalam pembentukan pertumbuhan itu. Jika pertumbuhan fisik akan mberhenti saat anak mencapai usia dewasa, namun pertumbuhan psikis akan berlangsung seumur hidup. Hal ini menunjukkan bahwa masa asuhan di kelembagaan pendidikan (sekolah) hanya berlangsung selama waktu tertentu. Sebaliknya asuhan oleh masyarakat akan berjalan seumur hidup. Dalam kaitan ini ada pula terlihat besarnya pengaruh masyarakat terhadap pertumbuhan psikis. Jiwa keagamaan yang memuat norma-norma kesopanan tidak akan dapat dikuasai hanya dengan mengenal saja. Menurut Emerson, norma-norma kesopanan menghendaki adanya norma-norma kesopanan pula pada orang lain. (M.Buchori: 157).
Dalam ruang lingkup yang lebih luas dapat diartikan bahwa pembentukan nilai-nilaikesopanan atau nilai-nilai yang erkaitan dengan aspek-aspek spritual akan lebih afektif jika seseorang beradadalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Sebagai contoh, hasil penelitian Masri Singarimbun terhadap kasus kumpul kebo di Mojolama. Ia menemukan 13 kasus kumpul kebo ini ada hubungannya dengan sukap toleran masyarakat terhadap hidup bersama tanpa nikah (Djamaluddin Ancok: 27). Kasus seperti itu mungkin akan lebih kecil di lingkungan masyarakat yang menentang pola hidup seperti itu.
Di sini terlihat hubungan antara llingkungan dan sukap masyarakat terhadap nilai-nilai agama. Di lingkungan masyarakat sendiri barangkali akan lebih memberi pengaruh bagi pendidikan jiwa keagamaan dibandingkan dengan masyarakat lain yang memiliki ikatan yang longgar terhadap norma-norma keagamaan. Dengan demikian, fungsi dan peran masyarakat dalam pembenukan.

D.    Agama dan masalah sosial.
Tumbuh dan kesadaran agama (religions cons ciausness) dan pengalaman Agama (religions experince), ternyata melalui proses yang gradul, tidak sekaligus. Pengaruh luar sangat berperan dalam menumbuh kembangkan nya, khususnya pendidikan. Adapun pendidikan yang berpengaruh, yakni pendidikan dalam keluarga. Apabila dalam lingkungan keluarga anak-anak tidak diberikan pendidikan agama, biasanya sulit memperoleh kesadaran dan pengalaman agama yang memadai.
Pepatah mengatakan :”Bila anak tidak dididik oleh oarang tuanya, maka ia akan dididik oleh siang dan malam.” Maksud nya pengaruh lingkungan nya akan mengisi dan memberi bentuk dalam jiwa anak itu. Dalam kehidupan dikota-kota basar, Anak-anak kehilangan dari hubungan dengan orang tua cukup banyak, mungkin dikarenakan faktor ekonomi, hingga harus ikut mencari nafkah seharian ataupun karena mereka yatim piatu. Anak-anak ini sering disebut anak jalanan.
Dalam kesehariaan nya, nanak-anak ini umumnya tergabung dalam kelompok pengamen, pemulung, pengemis,dan sebagainya. Mengamati linkungan pergaulan nya sehari-hari serta kegiatan yang mereka lakukan, maka kasus anak jalalan selain dapat menimbulkan kerawanan sosial,juga kerawanan dalam nilai-nilai keagamaan. Selain latar belakang sosial ekonomi, mereka ini tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh bimbingan keagamaan. Bahkan, dikota-kota besar, mereka ini seakan sudah terbentuk menjadi golongan tersendiri dalm masyarakat, Yakni masyarakat rentan.
Sebagi masyarakat rentan, golongan ini seakan berada diluar lingkaran budaya dan tradisi masyrakat umum. Boleh dikatakan mereka mempunyai “budaya” sendiri yang terbentuk diluar kaidah-kaidah dan nilai yang berlaku atau pola fikir,kehidupan yang cenderung permisif (serba boleh).
Bila konflik agama dapat ditimbulkan oleh tindakan radikal, karena sikap fanatisme agama, maka dalam kasus anak jalanan ini, mungkin sebaliknya. Konflik dapat terjadi karena kosong nya nilai-nilai agama. Dalam kondisi kehidupan yang seperti ini, tindakan emosional dapat terjadi sewaktu-waktu. Hal ini dikarenakan tidak adanya nilai-nilai yang dapat mengikat dan mengatur sikap dan perilaku yang negatif.dengan demikian, mereka akan mudah terprofokasi oleh sebagi isi yang berkembang.
Dalam kontes ini sebenarnya institusi pendidikan agama dapat berperan. Demikian organisasi keagamaan. Membiarkan anak jalanan ataupun menyerahkan semua kepada pemerintah, bagai manapun bukan sifat yang arif. Kasus anak jalanan napak nya memang memerlukan penanganan yang serius. Selain menjadi masalah sosial, kasus ini juga menjadi bagian dari masalh keagamaan. Sebagai aplikasi dari kesadaran agama.

E.     Pengaruh Pendidikan Terhadap Psikologi Agama
Psikologi agama yang memepelajari rasa agama dan perkembangannya mempunyai peranan yang saling korelatif dalam pendidikan agama islam. Pendidikan islam sebagi sebuah upaya penyadaran terhadap umat islam akan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Pertumbuhan rasa agama akan semakin meningkat dan juga bisa dihubungkan dengan kondisi di sekitarnya, baik sosial,ekonomi, politik hukum dan sebagainya. Peran psikologi agama dalam pendidikan islam lebih memudahkan pemahaman masyarakat dalam menelaah agama secara komprehensif. Agama tidak dipandang hanya sebagi kebutuhan orang-orang tertentu, tapi agama memang menjadi kebutuhan stiap pribadi seseorang yang menjadikan perkembangan pribadi secara psikisnya. Proses penyadaran dan perubahan untuk meningkatkan nilai jiwa keagamaan pun akan mudah di kembangkan.

BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulakan bahwa Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan. Perkembangan agama menurut W.H.Clark, berjalin dengan unsur-unsur kejiwaan sehingga sulit di identifikasisecara jelas, karena masalh menyangkut kejiwaan, manusia begitu rumit dan kompleksnya.
Di sini terlihat hubungan antara llingkungan dan sukap masyarakat terhadap nilai-nilai agama. Di lingkungan masyarakat sendiri barangkali akan lebih memberi pengaruh bagi pendidikan jiwa keagamaan dibandingkan dengan masyarakat lain yang memiliki ikatan yang longgar terhadap norma-norma keagamaan. Dengan demikian, fungsi dan peran masyarakat dalam pembenukan.

B.     Saran.
Kami mohon kepada para pembaca khususnya kepada pembimbing untuk memberikan kritik atau masukan yang membangun demi tersusunnya makalah yang bertema “pengaruh pendidikan terhadap jiwa keagamaan” ini dapat tersusun secara sempurna, karena kami yakin dengan kelemahan atau kekurangan pengetahuan kami tentang penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan.

 

DAFTAR PUTAKA



Ali Ashraf, Horison. 1993. Baru Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus

Prof.Dr.H Jalaludin.Psikologi Agama (edisi revisi 2004). rajawali Pers: Jakarta.

 Jalaludin. 2005. Psikologi Agama. Jakarta: PT Rajawali Grafindo


 

Kamis, 12 April 2012

MAKALAH IPA (TUMBUHAN HIJAU)


BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang
Pendidikan Sekolah Dasar merupakan satuan pendidikan yang paling penting keberadaanya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa menyelesaikan pendidikan pada sekolah dasar atau yang sederajat, secara formal seseorang tidak mungkin dapat mengikuti pendidikan selanjutnya. Tingkat kreaktivitas akan selalu meningkat sesuai dengan tingkat pendidikan siswa, hal ini seiring dengan tingkat kematang, kecerdasan, dan pengalaman siswa. Lingkungan tempat belajar dalam mengembangkan kreaktivitas siswa di sekolah dasar salah satunya adalah  “Proses  pembelajaran  IPA  tentang  pembuatan  makanan  pada  tumbuhan  hijau”.  Tumbuhan  hijau sebagai satu contoh sumber belajar jenis specemen benda yang masih hidup. Dapat dimanfaatkan untuk kepentingan belajar siswa terutama mata pelajaran IPA. Masalahnya siswa kelas V SDN masih kesulitan dalam memahami proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau. Sehingga perlu adanya inovasi dalam pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD dalam memahami proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau.

B.     Rumusan Masalah
Adapun masalaha yang akan dibahas pada kesempatan hari ini adalah:
1.      Bagaimana proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau?
2.      Tumbuhan hijau bersumber sebagai apa saja?
3.      Bagaiamana peran tumbuhan hijau bagi  manusia dan hewan?






BAB II
PEMBAHASAN


A.     Pembuatan Makanan Pada Tumbuhan Hijau
Tumbuhan hijau merupakan satu-satunya makhluk hidup di dunia yang dapat membuat makanannya sendiri. Oleh karena itu, tumbuhan hijau merupakan sumber makanan bagi makhluk hidup lainnya termasuk manusia. Bagaimana tumbuhan hijau membuat makanannya sendiri? Berikut akan dibahas bagaimana proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau.
a.       Proses Tumbuhan Hijau Membuat Makanan

Image:tumbuhan hijau.jpg
Image:tumbuhan hijau.jpg
Gambar di atas merupakan penampang daun yang diperbesar. Perhatikanlah bahwa pada daun terdapat sel yang mengandung kloroplas yang disebut lapisan palisade. Di dalam kloroplas terdapat zat hijau daun yang disebut klorofil. Tunjukkanlah mana bagian sel itu! Klorofil berperan pada proses
pembuatan makanan yang berlangsung di daun. Selain klorofil, untuk membuat makanan tumbuhan juga memerlukan karbondioksida, air, dan sinar matahari. Energi dari sinar matahari digunakan untuk mengubah karbondioksida dan air menjadi glukosa dan oksigen. Proses ini kemudian dikenal dengan nama fotosintesis. Secara singkat, proses fotosintesis dapat di lihat pada diagram berikut ini.
Air + Karbondioksida (CO2) Karbohidrat + Oksigen (O2)
Secara alami, proses fotosintesis hanya berlangsung pada siang hari karena proses ini memerlukan cahaya matahari. Cahaya matahari merupakan sumber energi utama pada proses fotosintesis. Oksigen yang merupakan hasil fotosintesis dikeluarkan oleh tumbuhan melalui mulut daun (stomata) dan digunakan oleh manusia dan hewan pada proses pernapasan, meskipun sebagian digunakannya untuk bernapas. Oleh karena itu, apabila kita pada siang hari duduk di bawah pohon yang daunnya hijau dan rindang, kita merasakan sejuk karena kita banyak menghirup oksigen hasil fotosintesis. Hasil fotosintesis lainnya, yaitu glukosa yang merupakan zat makanan yang akan diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh tapis. Pada tumbuhan, glukosa ini digunakan untuk tumbuh, berkembang biak, dan sebagian disimpan sebagai timbunan makanan.
b.       Tempat Menyimpan Timbunan Makanan pada Tumbuhan
Image:tlas.jpg
Image:tlas.jpg
Glukosa yang merupakan zat makanan hasil fotosintesis, selain digunakan untuk tumbuh dan berkembang biak juga disimpan sebagai timbunan makanan. Sebagian besar bagian tumbuhan yang kita makan merupakan timbunan makanan dari tumbuhan tersebut.
Setiap tumbuhan memiliki tempat menyimpan timbunan makanan yang berbeda-beda. Ada tumbuhan yang menyimpan timbunan makanan pada akar, batang, ataupun buah. Berdasarkan tempat menyimpan timbunan makanannya, tumbuhan dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
a.       Tumbuhan yang menyimpan timbunan makanan di dalam umbi
Umbi adalah akar atau batang yang mengembung dan berisi timbunan makanan. Tumbuhan yang timbunan makanannya disimpan di dalam umbi di antaranya adalah kentang, singkong, dan ubi jalar.
Image:umbi.jpg
Image:umbi.jpg
b.      Tumbuhan yang menyimpan timbunan makanannya di dalam buah
Buah-buahan yang kita makan sehari-hari, seperti mangga, pepaya, apel, dan jeruk merupakan timbunan makanan. Timbunan makanan tersebut disimpan oleh tumbuhan di dalam buah.
Image:buah.jpg
Image:buah.jpg
c.       Tumbuhan yang menyimpan timbunan makanan di dalam biji
Kacang hijau, kacang tanah, dan kacang kedelai merupakan kelompok tumbuhan yang meyimpan timbunan makanannya di dalam biji.
d.      Tumbuhan yang menyimpan timbunan makanan di dalam batang
Kamu mungkin pernah memakan batang tebu yang rasanya manis dan segar. Tumbuhan tebu dan sagu merupakan kelompok tumbuhan yangmenyimpan timbunan makanannya di dalam batang.

B.     Tumbuhan Hijau Sebagai Sumber Makanan Manusia dan Hewan
Proses fotosintesis menghasilkan makanan bagi tumbuhan. Makanan ini sebagian digunakan oleh tumbuhan itu sendiri dan sisanya dibawa ke bagian tubuh lain. Manusia dan hewan secara langsung ataupun tidak langsung bergantung pada tumbuhan hijau untuk memperoleh makanan. Daun, batang, buah, biji, dan umbi merupakan bagian dari tumbuhan yang digunakan sebagai sumber makanan bagi manusia dan hewan.Beberapa bagian tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan baik yang langsung dimakan ataupun dimasak terlebih dahulu di antaranya adalah akar, batang, daun, buah, bunga, dan biji.
1.      Akar
Akar merupakan bagian pada tumbuhan yang tumbuh di dalam tanah. Air dan mineral yang dibutuhkan oleh tumbuhan diserap oleh akar dari dalam tanah. Tumbuhan yang akarnya dijadikan bahan makanan, contohnya adalah singkong, wortel, bengkoang, dan lobak.
Image:singkong.jpg
Image:singkong.jpg
2.      Batang
Selain akar, pada bebrapa tumbuhan batang dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Contoh tumbuhan yang dimanfaatkan batangnya sebagai bahan makanan adalah tebu, sagu, dan enau. Pada beberapa tumbuhan bagian batangnya ada yang berubah fungsi menjadi umbi batang, contohnya kentang dan ubi jalar.
3.      Daun
Ibumu mungkin pernah membuat sayur kangkung atau bayam. Bayam dan kangkung merupakan tumbuhan yang dimanfaatkan daunnya sebagai bahan makanan. Selain bayam dan kangkung, tumbuhan lain yang juga dimanfaatkan daunnya sebagai bahan makanan adalah melinjo dan selada.
Image:kangkung.jpg
Image:kangkung.jpg
4.       Buah
Jeruk, apel, mangga, pepaya, dan pisang merupakan jenis tumbuhan yang buahnya dapat langsung dimakan oleh kita tanpa harus diolah terlebih dahulu.Namun demikian, beberapa jenis tumbuhan lain yang dimanfaatkan buahnya sebagai bahan makanan tidak dapat dimakan langsung, seperti terong dan labusiem.
5.      Bunga
Tumbuhan yang bunganya dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan antara lain adalah kol atau kubis dan bawang. Di dalam bunga banyak terkandung mineral dan vitamin.
6.      Biji
Nasi yang berasal dari beras merupakan makanan pokok yang sehari-hari kita makan. Selain itu, di Indonesia makanan pokok lainnya adalah jagung dan gandum. Beras, jagung, dan gandum merupakan biji-bijianyang merupakan sumber karbohidrat. Tumbuhan lain yang bijinya dimanfaatkan sebagai bahan makanan adalah kacang kedelai, kacang tanah, dan kacang panjang.

Image:padi.jpg
Image:padi.jpg

C.     Peranan Penting Tumbuhan Hijau Bagi Manusia dan Hewan
Tumbuhan hijau merupakan sumber makanan bagi manusia dan hewan. Coba bayangkan apa yang akan terjadi apabila tidak ada tumbuhan hijau? Manusia dan hewan sangat bergantung pada tumbuhan hijau. Apabila tidak ada tumbuhan hijau maka tidak tersedia sumber bahan makanan yang digunakan oleh manusia dan hewan untuk tumbuh dan berkembang biak. Selain itu, tidak adanya tumbuhan hijau mengakibatkan tidak ada oksigen yang digunakan oleh manusia dan hewan untuk bernapas.
Image:jalan.jpg
Image:jalan.jpg
Oleh karena itu, agar sumber makanan bagi manusia dan hewan tetap terjaga maka kita perlu menjaga dan memelihara tumbuhan hijau yang ada di lingkungan sekitar kita baik di rumah, di jalan, di kebun, ataupun di sekolah. Salah satu bentuk menjaga dan memelihara tumbuhan hijau adalah tidak merusaknya. Apabila di dunia tidak terdapat tumbuhan hijau maka sumber makanan danoksigen yang dibutuhkan oleh manusia dan hewan tidak tersedia di alam. Hal ini akan menyebabkan manusia dan hewan akan mati. Oleh karena itu, manusia dan hewan sangat bergantung pada tumbuhan hijau yang merupakan sumber makanan.

BAB III
PENUTUP


A.     Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau tidak berbeda dengan proses pembuatan makanan pada tumbuhan umumnya. Proses pembuatan makanan itu juga tidak terlepas oleh bantuan cahaya matahari. Tumbuhan juga sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hewan.

B.     Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Marilah semua calon pendidik untuk masa yang akan dating, kita bersama-sama belajar mengenai proses pembuatan makanan pada tumbuhan hijau ini.
















MATERI MATEMATIKA SD : SIFAT-SIFAT OPERASI HITUNG, PENJUMLAHAN, PENGURANGAN DAN PERKALIAN



A.     Sifat-sifat Operasi Hitung
v     Sifat Komutatif
      Seperti yang kamu ketahui,sifat komutatif disebut juga sifat pertukaran untuk lebih jelas perhatikan penjumlahan berikut:
2 + 4 = 6
4 + 2 = 6
Jadi 2 +4 = 4 + 2
Sifat seperti ini disebut sifat komutatif pada penjumlahan sekarang. Contoh perkalian adalah sebagai berikut:
2 x 4 = 8
4 x 2 = 8
Jadi 2 x 4 = 4 x 2
Sifat seperti dinamakan sifat komutatif pada perkalian. Apakah sifat komutatif Berlaku pada pengurangan dan pembagian. Contoh berikut:
a.       2 – 4 = -2 dan 4 – 2 = 2
      Jadi 2 -4 tidak sama dengan 4-2
      Atau 2-4 =  4 – 2
b.      2 : 4 = 0,5 dan 4 : 2 = 2
      Di peroleh bahwa 2:4 tidak sama dengan 4:2 atau 2:4 = 4:2
                  Pada kesempatan kali ini kita akan kembali mengingat dan mempelajari tentang sifat-sifat operasi hitung pada bilangan  bulat di dalam system bilangan kita mengenal beberapa sifat operasi  hitung seperti kmutatif, asosiatif, dan sifat distribusi. Kita juga akan mempelajari beberapa sifat-sifat lain yang dimiliki operasi hitung pada bilangan bulat.



v     Sifat asosiatif
            Pada penjumlahan dan perkalian tiga buah bilangan bulat atau lebih kita juga mengenal sifat asosiatif atau ynag disebut juga  sifat pengelompokkan untuk lebih jelas dapat dilihat contoh berikut.
(3 + 4) + 5 + =7 + 5 = 12
3 ( 4 + 5 + = 3 + 9 + 12
Jadi (3 + 4) + 5 = 3 ( 4 + 5)
Secara umum dapat ditulis
(a+b)+c= a+b+( c )  (sifat asosiatif penjumlahan)
(3 x 4) x 5 = 12 x  5 = 60
3 x ( 4x5)= 3 x 20 = 60
Jadi (3 x 4) x 5=3 x ( 4x5)
Secara umum dapat ditulis (axb) x c = a x ( bxc) (Sifat asosiatif pada perkalian)
v     Sifat distributif
            Selain kedua sifat tersebut di atas masih terdapat satu lagi sifat masih terdapat satu lagi sifat distributif, disebut juga sifat penyebaran. Perhatikan contoh berikut.
3 x ( 4 + 5) =  3 x 9 + 27 dan
(3x4) x (3x5)= 12 + 15 + 27
Ternyata
3 x ( 4 + 5) = (3x4) x (3x5)
Secara umum dapat ditulis
a x (b+c) = (axb) + (axc)
3 x ( 4-5) = 3 x (-1) = -3 dan ternyata 3 x (4-5) = (3x4)- (3x5)
Secara umum dapat ditulis 
a x (b-c) = (axb) – (axc)
sifat diatas disebut sifat distributive perkalian terhadap penjumlahan dan pengurangan.
v     Bilangan Real
            Bilangan memiliki beberapa jenis salah satunya adalah bilangan real materi mengenai bilangan real sifat operasi penjumlahan dan pengurangan perkalian dan pembagian.
v     Penggunaan sifat komutatif dan asosiatif dapat digunakan untuk memudahkan perhitungan.
      Contoh:
      Hitunglah : 2x7x5
            Jawab : cara 1 : 2x7x5 = 2x5x7 = (2x50x7 = 10x7=70 (Letak 7 ditukar dengan 5 sifat komutatif.
      Cara II 2x7x5 = 7 x 2 x 5= 7 x (2x5) = 7x10=70
      Letak 2 ditukar dengan 7, sifat komutatif).
            Sifat distributive digunakan untuk mempermudah operasi hitung. Perhatikan contoh berikut:


1.      ( 7 x 8 )  + ( 7 x 2 ) = 7 x ( 8 + 2 )

                                    = 7x10
                                    = 70


2.      25 x ( 10-2) = ( 25 x 10 ) – (25x2)


                                    = 250 – 50
                                    = 200

A.      (angka pengali yang sama disatukan, sehingga perhitungan jadi lebih mudah)
B.     ( angka penggali yang sama dipisahkan, sehingga perhitungan jadi lebih mudah)
            Jadi secara umum sifat distribusi dapat dituliskan sebagai berikut:




Ax(b+c)= (axb) (axc)

Ax (b-c) + (axb)-(axc)


 
 








B.     Pembulatan Bilangan dalam Satuan, Puluhan, dan Ratusan Terdekat
                  Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukan pembulatan bilangan baik itu satuan,puluhan atau ratusan terdekat. Pembulatan yang kita lakukan biasanya berguna  untuk mempermudah  kita menentukan hasil operasi hitung.
                  Sebelumnya kita  akan pelajari bagaiman teknik pembutan suatu bilangan.
Ø      Membulatkan bilangan kesatuan terdekat
      Pada pembuatan kesatuan terdekat yang diperhatikan adalah angka persepuluhan



            Jika angka persepuluhnya 1,2,3 dan 4 maka hilangkan. Jika angka per sepuluhnya, 5,6,7,8 dan 9 maka bulatkan menjadi 1

 
 





Ø      Pembulatan Bilangan ke Ratusan terdekat
            Untuk pembulatan ke ratusan terdekat yang diperhatikan adalah nagka puluhannya. Jika puluhannya kurang dari 50 maka dihilangkan. Jika puluhannya lebih besar atau sama dengan 50 maka dibulatkan menjadi 100.

C.     Menaksir Hasil Operasi Hitung Dua Bilangan
Ø      Menafsir hasil penjumlahan
      Menafsir hasil  operasi hitung berarti memperkirakan hasil operasi hitung.
Ø      Penafsiran ke puluhan terdekat
-         penafsiran ke ratusan terdekat
-         penafsiran ribuan terdekat
Ø      Menaksir hasil pengurangan
      Contoh:
      Taksiran ke puluhan terdekat dari 82-26 kira-kira 80 – 30 = 50
      Taksiran ke ratusan terdekat dari 765-243 kira-kira 800-200=600
Ø      Menaksir hasil perkalian
            Penaksiran dapat pula dilakukan dengan terlebih dahulu membulatkan masing-masing bilangan ke tempat yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk mempermudah perhitungan.
Ø      Menaksir hasil pembagian
            Demikian pula pada pembagian jika banyak angka-angka. Pada bilangan pembagi dengan bilangan yang dibagi tidak sama, maka masing-masing bilangan dibulatkan ketempat berbeda.
Contoh:
Taksiran dari 324 : 8 kira-kira
Jawab: 324 dibulatkan keratusan terdekat menjadi  300
8 dibulatkan kepuluhan terdekat menjadi 10.
Jadi taksiran dari 324:8 kira-kira 300:10= 30

D.    Menaksir Hasil Pengerjaan Hitung Dua Bilangan
                  Menaksir dapat diartikan memperkirakan sesuatu dengan cara garis besar dan cepat tanpa perhitungan yang matang dan cermat.
Ada 3 macam  taksiran yaitu:
a.       Taksiran tinggi
            Yaitu dengan cara membulatkan semua suku dalam operasi hitung ke dalam pembulatan tertentu yang ada di atasnya, baik ke dalam puluhan, ratusan, atau ribuan.
b.      Taksiran rendah
            Yaitu dengan cara semua suku dalam operasi hitung ke dalam pembulatan tertentu yang ada dibawahnya, baik ke dalam puluhan, ratusan atau ribuan
c.       Taksiran yang baik
            Taksiran ini sering digunakan karena hasil taksiran ini hamper mendekati yang sebenarnya, dalam menaksir hasil operasi hitung ke dalam pembulatan tertentu yang paling dekat ada di bawah atau di atasnya baik ke dalam puluhan, ratusan dan ribuan.